Di Belakang Layar Tutorialku Muncul di Majalah Taiwan

First, thanks to Bilqis yang sudah mengenalkanku pada mbak Bekti Galeri Beidi, dan memasukkanku ke group jualannya. Thanks to Fonza yang mengenalkan dan meminjamiku  buku2 craft Taiwan, terutama CL alias Cotton Life. Dan terutama suwun ke mbak Bekti dan mas Amrih atas kerjasamanya.

Untuk cerita lengkap persahabatanku dengan buku tutorial bag making ada disini.

Khusus kontribusiku di CL25, ceritanya berawal saat mbak Bekti selaku pemilik Galeri Beidi membuat woro2 di group tentang dibukanya kesempatan bagi crafter Indonesia untuk jadi kontributor di majalah Cotton Life edisi 25. Pengumuman dibuka tanggal 6 Februari 2017. Kontribusi foto via email ditunggu paling lambat tanggal 10 Maret.

Aduh, pengin mengadu nasib nih, pikirku.. Tapi kok ya proses editing buku Tas Handmade dari A ke Z mendekati duedate… Maka sempat pupuslah keinginan itu.

Tapi, awal Maret, di tengah kramnya tangan kananku me-lay out buku THAZ—yes, buku ini selain isinya dari A ke Z soal tas handmade, proses pembuatannya pun dari A ke Z kupegang sendiri, hanya bagian pengurusan ISBN dan percetakan yang kuserahkan ke teman :p–kuputuskan untuk mengikuti hati kecil, menunjukkan bahwa crafter Indonesia pun tak kalah ketjenya dengan crafter dari luar.

Tanggal 9 habis maghrib, pilih2 stok model dan polapun kulakukan. Untuk pembuatan buku THAZ aku memang membuat lebih dari 23 desain dan pola, meski akhirnya hanya 15 yang kuputuskan pakai di buku indie publishingku itu. Kelar pilih model, aku lalu pilih2 bahan. Niatnya mau pakai kain tenun dari Pekalongan. Tenun hasil produksi seorang teman yang pewarnaannya dikerjakan sendiri selama 13 tahun try and error. Sayangnya, bahan minim. Maka beralihlah aku ke stok bahan yang masih aman, kanvas linen.

Desain oret-oretan di kertas aku terjemahkan 1:1 dalam bentuk pola di karton. Lanjut potong kain dari jiplak pola. Lalu kumpulin printilan ie; ristleting, ring, webbing dll, .. Cekrek cekrek cekrek, foto.

Waktu terus merambat, anak-anak dan suami pun yang tadinya menemani sudah beranjak ke kamar. Tinggal aku masih berasyik masyuk dengan bahan, hingga jam 2 dini hari. Yes, seorang crafter, penulis, atau siapapun yang bekerja dengan passionnya pasti tahu, bahwa ‘musuh utama’ adalah jam yang seakan ngajak berlari sementara ide di kepala masih melesak-lesak ke dada minta dieksekusi segera. Hehe. Meski masih excited berhasil memecah kebuntuan teknik baliknya, aku tinggal tidur aja si Pine. Waktunya memberi hak ke body. Btw, aku sempat ndedel lho, karena teknik tas Tweeny yg mau kupakai ternyata nggak bisa kuterapkan di Pine.

Pagi, rutinitas di Ayaran berjalan seperti biasa. Admin rekap2 jawab chat, si mbak ngelayani pembeli offline dll. Sementara emak Ayaran, kena detlen nyelesaiin tas  jam 10, kalau mau dapat cahaya yang pas untuk pemotretan. Yup, cahaya dengan intensitas cukup bagus untuk pemotretan luar ruangan memang harusnya tak lebih dari jam 10. Paling bagus jam  8 pagi. Meski itu tergantung cuaca juga sih.

Menjinjing 2 tas plus property, aku lari ke taman kompleks dan  sudut masjid. Cekrek cekrek . Balik rumah, letakkan tuh tas dulu, tinggal mandi dan siapin masakan buat hubby n kiddos. :p

Usai dhuhur, waktunya edit foto2. Dipoles pakai photoshop, ditata berdasarkan urutan waktu pakai indesign, disave siap kirim pakai PDF menjelang maghrib. Instruksionalnya, belummm..:P.

Eh, sudah jumpalitan pakai SKS (sistem kebut semalam), ternyata mbak Bekti baik hati ngasih tambahan waktu 4×24 jam. Pengin ngedit lagi, sebenarnya. Tapi sudahlah.. balik lagi kerjain buku THAZ dan berdoa semoga Pine Bag atau Hoblet (yap, aku ngirim dua tutorial model tas) masuk kriteria redaktur CL.

Lalu, sampailah saat pengumuman itu tiba. Ada 5 nama yang lolos dengan Pine Bag dan tas milik mbak Titi yang disertakan tutorialnya. 3 lagi kreasi dari crafter Indonesia, nggak pakai tutorial. Alhamdulillah… kok passs dengan kuterima dummy book THAZ hasil editing dan lay outanku sendiri plus pola 1:1. Tentang dummy book, ntar aku ceritain lain kali.

Usai pengumuman, kerjaku kemudian adalah memberi deskripsi di setiap foto tutorial. Pakai bahasa Inggris. Untungnya punya buku bag making terbitan USA yang pakai bahasa inggris,(Bags, Totes, & Purses by Moya’s Workshop) jadi nggak terlalu kagok. Bisa ngintip terms instruksional disana. Ya, membuat tutorial, memang harusnya memakai bahasa instruksional. Bukan bahasa narasi yang panjang. Berbeda sense nya.

Kemampuan mengoperasikan software photoshopku tertantang juga disini. Karena pas foto bahan, sejatinya Pine bag aku rencanakan memakai webbing. Jadi karakternya lebih casual. Ndilalah, di tengah jalan kok dia lebih pas pakai handle set sudah jadi, ya sudah, fotonya yang ngalah, diedit aja.

Langkah selanjutnya, pola. Karena harus ngirim ke Taiwan, dan akan dicetak plus dijual dalam bentuk ebook, nggak ada cara lain selain semua harus dalam bentuk file. Pola, kugambar ulang. Kali ini aku harus berakrab ria sama corel draw, kalau bisa milih, sebenarnya aku prefer autoCAD yang dulu pernah aku akrabi. Tapi setelah hampir 12,5 tahun resign, ilmu autoCAD udah raib semua dari kepala. Lebih mudah belajar Corel .

Soal teknis selesai, proses lanjut ke penandatanganan kerjasama. Peran mbak Bekti nih yang menjadi menghubung antara kami, crafter Indonesia dengan pihak redaksi/penerbit CL.

Saat kutulis ini, 2 Syawal 1438H, atau 26 Juni 2017, di group mbak Bekti sendiri sudah ada list 70-an yang PO. Belum yang koment di postinganku di Fesbuk. Alhamdulillah..

Akhir tulisan mengapakah aku merasa perlu menuliskan ini?

Pertama, karena aku ingin sharing proses si Pine hingga bisa satu binding di majalah CL dengan salah satu penulis buku Big Shinny yang cetar itu. Intinya, jangan ragu dan sungkan memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan orang, jika itu untuk perbaikan dan kebaikan.

Kedua, hindari  kerja SKS. Efeknya bisa sampai gak sempat mandi dan makan ntar. hahaha. At least, it works for me. Tapi jika memang itu diperlukan (biasanya karena si mood tak kunjung datang) ya hajar saja. Mati-matianlah kau berkreasi dan kerja. No excuses.

Ketiga, penguasaan software computer akan mempermudah kerjamu, dibanding jika ketrampilan itu tak kau punyai.

Keempat, positif thinkinglah selalu ke orang, focus pada apa yang bisa kau lakukan, alih-alih iri dan memikirkan kelebihan yang dimiliki orang lain. àeh, ini ada hubungan teknisnya nggak sih ke point di atas? Wkwkwk.. tauklah.. pokok e pokussss… Wis..gitu aja. Thank you udah baca ya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *